Monday, May 16, 2016

REMAJA MASA BERPRESTASI

Remaja, Masa Berprestasi  dan Perwujudan Diri
Oleh: Nelson Sihaloho
Description: D:\Pictures\s\TOT 4.jpg
Abstrak:
Masa remaja merupakan masa-masa yang penuh dengan intrik, kegalauan, terombang-ambing, kondisi psikologis labil, melawan orangtua, hinga seringkali disebutsebut masa kritis. Dalam konteks perkembangan  masa remaja dan pembinaan, pengembangan bakat dan minta masa kini dalam dunia pendidikan masa remaja identic dengan masa  berprestasi  hingga mampu mewujudkan dirinya. Karakter anak akan tumbuh dan semakin percaya diri apabila semakin banyak kesempatan diberikan kepada anak didik untuk mengembangkan bakat dan prestasinya bila tersedia kesempatan besar untuk menyalurkan minat yang diinginkannya.
Hasil penelitian dan fakta-fakta empiric menunjukkan bahwa  anak yang diberikan kebebasan dalam menyalurkan bakat dan minatnya seringkali mampu mengukir pretsasi gemilang baik itu prestasi akademik dan non akademik. Prestasi anak hanya bias tumbuh dan berkembang bila diasah dalam lingkungan yang mendukung penyaluran minat dan bakat anak. Dalam bidang seni misalnya anak-anak remaja seringkali menorehkan prestasi karena sering mengamati dan terjun kelapangan melakukan pengamatan, observasi dan pengumpulan informasi yang berkaitan dengan budaya-budaya yang berlaku di masyarakat.
Kata kunci: remaja, berpretsasi dan perwujudan diri

Remaja dan Penelitian Ilmuwan
Secara umum masa remaja  merupakan masa yang paling indah dimana penuh keceriaan dan kebersamaan dengan teman-teman sebaya baik di sekolah ataupun lingkungan pergaulan mereka. Meski usia mereka tergolong muda ada diantara para remaja yang berhasil menorehkan prestasi baik nasional ataupun internasional bahkan telah menjadi milioner pada usia muda. Masa remaja identic dengan perkembangan emosi dimana memasuki era pubertas emosinya meletup-letup dan sering menjadi bumerang akibat pergaulan buruk.  Remaja menurut definisi psikologi adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Sebagian ahli menggolongkan masa remaja itu antara 13-18 tahun dan  sebagian ahli yang lain menambahkannya dengan masa dewasa awal yaitu antara 18-22 tahun.  Masa remaja ditandai dengan datangnya pubertas, yaitu proses kematangan seksual yang mengubah seorang anak menjadi individu yang matang secara biologis untuk melakukan reproduksi seksual. Perempuan biasanya mengalami masa pubertas lebih awal dari pada laki-laki.
Data berbagai sumber menguatkan bahwa pubertas mempunyai efek psikologis pada remaja yaitu pada citra tubuh, mood, harga diri, hubungan dengan orang tua dan lawan jenis. Sebagian remaja yang melewati hal ini tanpa kegalauan yang berat (Atkinson, 2010).  Erikson, et.el,  mengatakan bahwa setiap tahap perkembangan manusia selama hidupnya terdapat krisis yang harus dihadapi masing-masing individu sesuai kelompok usianya.  Namun kerap saat pencarian identitas, para remaja harus berbenturan dengan orang tua atau aturan yang ditetapkan orang dewasa. Lingkungan dan orang tua/dewasa yang suportif dapat membantu remaja menemukan jati dirinya secara sehat dan membantunya keluar dari krisis identitas (Santrock, 2008). Dari segi pengetahuan, para remaja telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk hidup (life skill), atau sebagai dasar untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Merunut pada pendapat Piaget, remaja juga berada pada akhir tahap perkembangannya yakni tahap perkembangan kognitif yang dikenal tahap operasional formal di mana pada tahap ini remaja telah mampu berpikir abstrak, idealistik dan logis. Setiap manusia tentu  mengalami fase-fase dalam hidupnya, seperti pada masa bayi, fase anak-anak, fase remaja, fase dewasa, dan fase lanjut usia. Namun, yang sering mengalami pencarian makna hidup berada pada fase remaja.
Pada masa remaja, individu mengalami masa penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada disekitarnya, khususnya dengan tatanan norma, nilai, adat, dan etika yang berlaku di masyarakat. Masa remaja merupakan masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja termasuk juga masa yang indah. Pada masa perkembangan ini, remaja mulai menuntut untuk diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri, suka mencetuskan perasaannya, jika dianggap perlu remaja tersebut memberontak karena dia merasa bahwa dirinya bukan anak-anak lagi, dan mengapa belum diakui kedewasaannya hingga mengakibatkan kegelisahan di dalam dirinya, kurang tenang dengan keadaan lingkungan. Biasanya remaja memiliki yang dikaguminya, namun sikapnya tidak selalu negatif.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan titik berat dari peranan sekolah yang mengembangkan interpersonal remaja dalam mencapai pegetahuan, keterampilan, dan pewarisan budaya. Berdasarkan penelitian Coleman (1961) menemukan bahwa sekolah belum menyelesaikan atau membentuk popularitas tertentu. Sebuah contoh, hanya 31% pelajar putri dicari menjadi kelompok pelajar istimewa tapi 45% dicari mengingat sebagian jadi atlet, dan umumnya 28% laki-laki sebagai pelajar istimewa mengingat kekurangan mereka, tapi 72% kekurangannya dipanggil kembali pada biasanya. Smilarly Snyder(1972) menemukan bahwa umumnya sekolah lanjutan tingkat pertama paling penting menyeleksi kriteria antara laki-laki dan perempuan untuk memberikan penghargaan dan status yang membawa kualitas individu.  Johnston and Bachman (1976) dalam penelitiannya  pada sebuah negara kemungkinan sampel 2100 guru sekolah menemukan bahwa baik guru maupun peserta didik hampir semuanya berpendapat, dimanakah letak fungsi sebenarnya sekolah menengah.  Laporan Johnston dan Bachman serta peneliti lainnya ada indikasi yang paling mendasar untuk fungsi-fungsi terakhir. Frieson (1968) meneliti tentang 15.000 pelajar pada 19 sekolah di Kanada dan menemukan bahwa pelajar yang kelihatan atletik dan populer dan yang lebih penting untuk mempersoalkan fungsi kesuksesan.  Johnston dan Bachman, et.el,  mendukung fungsi pokok dan menjadikan dengan menitikberatkan sekolah masa depan sebagai harapan remaja yang terakhir.
Hadden (1969) mencatat bahwa  45% siswa yang belajar melihat sekolah sebagai sebuah  harapan atau simbol kehancuran dunia “ sedangkan Rewer mencatat dari 25% apa yang mereka telah pelajari kebodohan, kegagalan dan kehilangan jati diri. Fungsi-fungsi itu lebih menambah tekanan individu dan interpersonal. Hanya 2/3 sampel setuju bahwa“sekolah telah merubah seluruh pandangan saya sendiri”. Sekolah menjalankan beberapa fungsi, paradigma tentang berbagai fungsi pendidikan telah dipikirkan oleh berbagai ahli perkembangan remaja.
 Ausubel Montemayor dan Svajian (1977) melihat bahwadasar dari pendidikan adalah sebuah alat untuk mengabadikan dan mewariskan kebudayaan serta mampu memberikan atau menambah wawasan tentang hidup. Sekolah juga merupakan salah satu cara untuk memindahkan dan mendapatkan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Mecandless (1970) mengungkapkan bahwa sekolah seharusnya berfungsi untuk memberikan keterampilan dan mewariskan budaya ilmu pengetahuan dan nilai.
Tugas Perkembangan dan Kunci Keberhasilan
Penelitian Harvard University mengungkapkan bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupannya ditentukan oleh 80% soft skill dan 20% hard skill. Soft skill berkaitan dengan karakter, keterampilan mengelola diri dan orang lain. Sedangkan hard skillberkaitan dengan kompetensinya, yaitu kemampuan dalam merangsang kecerdasan, mengasah keterampilan, atau menempa keahlian dan profesionalitas.
Rahasia besar yang dimiliki orang-orang besar sesungguhnya bukan terletak pada seberapa banyak dia belajar tentang suatu ilmu. Rahasia yang sebenarnya adalah terletak pada karakter yang kuat, tegar, dan memiliki tujuan hidup yang berkobar-kobar untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya untuk sukses dengan aksi nyata, yakni dengan 10 % ide 90% keringat. Setiap orang memiliki kontrol penuh atas karakternya sendiri termasuk para remaja.  Remaja yang memiliki karakter yang positif dan unggul adalah tanggung jawab pribadi masing-masing.
Karakter harus dibangun dan dikembangan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter baik bisa terwujud hanya dengan praktik dan latihan, tidak bisa hanya diajarkan serta tanpa praktik, sifat baik masih hanya menjadi nilai. Karakter remaja dibangun dari kebiasaan-kebiaaan yang diulang,  kebiasaan dibangun dari tindakan-tindakan yang sering dilakukan, tindakan dibangun dari kata-kata yang sering diucapkan, dan kata-kata keluar dari pikiran (mindset) seseorang.
Remaja adalah generasi penerus bangsa akan memiliki karakter yang positif dan kompetensi yang baik apabila diberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri khususnya bakat dan minatnya. Remaja harus mendapatkan perhatian di dalam penyelenggaraan pendidikan  terutama tentang sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan kepercayaan serta  kebebasan. Beberapa usaha yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yakni bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan  pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungan, penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan local serta keberhasilan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal perlu dilakukan yakni bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga. Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat yang memerlukan kebebasan emosional serta pengertian dari orang tua.
Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk mengenalkan norma kehidupan sosial kemasyarakatan sangat penting dilakukan. Bisa dilakukan pendidikan praktis melalui organisasi pemuda, pertemuan dengan orang tua secara periodik, dan pemantapan pendidikan agama baik di dalam maupun di luar sekolah. Remaja adalah masa yang penting dalam prestasi (Hendersen & Dweck;
dalam Santrock, 2005). Tekanan sosial dan akademik mendorong remaja kepada berbagai peran yang harus dibawakan dimana peran yang sering kali menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Remaja mulai menyadari bahwa pada saat ini mereka dituntut untuk menghadapi kehidupan sebenarnya.
Keberhasilan mendapatkan prestasi sangat dipengaruhi oleh faktor motivasi dimana motivasi merupakan hal terpenting dalam proses belajar. Motivasi bukan hanya sebagai penggerak tingkah laku, tetapi juga mengarahkan dan memperkuat tingkah laku dalam belajar. Tinggi rendahnya motivasi dalam belajar terkait dengan motivasi berprestasi yang dimiliki oleh para remaja. Motivasi berprestasi mempunyai peran yang sangat penting di dalam keberhasilan kegiatan akademik, sebab motivasi berprestasi akan mendorong para remaja untuk melakukan semua kegiatan akademik dengan penuh semangat.
Menurut McClelland, et al (1953, dalam Chapman, 2000) bahwa tingkat usaha seseorang untuk sukses dihubungkan dengan keberhasilan yang tinggi untuk berprestasi. Karena  itu motivasi berprestasi harus menjadi perhatian yang serius dalam rangka mengembangkan peran para remaja sebagai modal dasar kemajuan bangsa. Fernald dan Fernald (1999) mengatakan bahwa tumbuh kembangnya motivasi berprestasi salah satunya dipengaruhi oleh konsep diri.
Moss dan Kagen (dalam Calhoum & Acocella, 1990) juga mengatakan hal yang sama bahwa keinginan untuk berhasil dipengaruhi oleh konsep diri yang dimiliki individu. Harter (1991; dalam Steinberg, 2002) menyebutkan bahwa siswa-siswa yang percaya akan kemampuan diri sendiri memiliki motivasi berprestasi tinggi yang akan mempengaruhi penampilan belajar mereka. Konsep diri adalah penilaian kognitif terhadap diri sendiri (Hattie, 1992).
Didalamnya terdapat aspek-aspek description, expectation, dan prescription.
Keberhasilan mendapatkan prestasi akademik sangat dipengaruhi oleh berbagai factor sebahaimana pendapat Gage & Berliner (1979) dan Sumadi Suryabrata (2004) konsep diri dan motivasi berprestasi merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi akademik. Moss dan Kagen (dalam Calhoum & Acocella, 1990) mengatakan bahwa konsep diri yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi keinginannya untuk berprestasi. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Gage dan Berliner (1979), bahwa terdapat hubungan yang positif antara konsep diri dengan keinginan untuk berprestasi yang dimiliki oleh individu.
Studi yang dilakukan oleh Harter (1991; dalam Damon, 1998) mengindikasikan bahwa siswa-siswa yang percaya akan kemampuan diri sendiri memiliki motivasi berprestasi tinggi yang akan mempengaruhi prestasi akademik mereka. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Remaja akhir dengan konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang datang.
Snygg, Combs dan Jersild (dalam Burn, 1993) menyebutkan bahwa konsep diri merupakan variabel penting yang mempengaruhi tingkah laku siswa. Perbedaan dalam konsep diri berkaitan dengan perbedaan dalam prestasi akademik.  Fink (1962) menemukan hubungan yang signifikan antara konsep diriyang rendah dengan prestasi akademik rendah, dan hubungan ini tampak lebih kuat pada siswa laki-laki daripada siswa perempuan. Jones dan Grieneeks (1970; dalam Burns, 1993) telah meneliti hubungan antara konsep diri dengan prestasi akademik.
Hasilnya  menunjukkan terdapat hubungan positif antara konsep diri dengan prestasi akademik pada siswa baik laki-laki maupun perempuan. Di samping itu Jones menemukan bahwa konsep diri merupakan prediktor yang terbaik bagi prestasi akademik, bahkan berada di atas IQ dan bakat. Penelitian yang dilakukan Brookover, Thomas dan Peterson (1964; dalam Burns, 1993), mendapatkan hasil bahwa konsep diri secara signifikan dan positif berkaitan dengan evaluasi yang dilakukan significant other.
Dengan demikian diperoleh suatu kesimpulan bahwa remaja yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki ciri-ciri antara lain  memiliki gambaran diri positif, optimis dan percaya diri. Lebih memilih tugas yang tingkat kesukarannya sedang-sedang saja daripada tugas-tugas yang sangat sukar atau sangat mudah;  berorientasi ke masa depan. Sangat menghargai waktu; tabah, tekun dan gigih dalam mengerjakan tugas serta  lebih memilih seorang ahli sebagai mitra daripada orang yang simpatik.( dihimpun dari berbagai sumber relevan: penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi)

No comments:

Post a Comment