Remaja, Masa
Berprestasi dan Perwujudan Diri
Oleh: Nelson
Sihaloho

Abstrak:
Masa
remaja merupakan masa-masa yang penuh dengan intrik, kegalauan,
terombang-ambing, kondisi psikologis labil, melawan orangtua, hinga seringkali
disebutsebut masa kritis. Dalam konteks perkembangan masa remaja dan pembinaan, pengembangan bakat
dan minta masa kini dalam dunia pendidikan masa remaja identic dengan masa berprestasi
hingga mampu mewujudkan dirinya. Karakter anak akan tumbuh dan semakin
percaya diri apabila semakin banyak kesempatan diberikan kepada anak didik
untuk mengembangkan bakat dan prestasinya bila tersedia kesempatan besar untuk
menyalurkan minat yang diinginkannya.
Hasil
penelitian dan fakta-fakta empiric menunjukkan bahwa anak yang diberikan kebebasan dalam
menyalurkan bakat dan minatnya seringkali mampu mengukir pretsasi gemilang baik
itu prestasi akademik dan non akademik. Prestasi anak hanya bias tumbuh dan
berkembang bila diasah dalam lingkungan yang mendukung penyaluran minat dan
bakat anak. Dalam bidang seni misalnya anak-anak remaja seringkali menorehkan
prestasi karena sering mengamati dan terjun kelapangan melakukan pengamatan,
observasi dan pengumpulan informasi yang berkaitan dengan budaya-budaya yang
berlaku di masyarakat.
Kata kunci: remaja, berpretsasi dan perwujudan diri
Remaja dan Penelitian Ilmuwan
Secara umum masa remaja merupakan masa yang paling indah dimana penuh
keceriaan dan kebersamaan dengan teman-teman sebaya baik di sekolah ataupun
lingkungan pergaulan mereka. Meski usia mereka tergolong muda ada diantara para
remaja yang berhasil menorehkan prestasi baik nasional ataupun internasional
bahkan telah menjadi milioner pada usia muda. Masa remaja identic dengan perkembangan
emosi dimana memasuki era pubertas emosinya meletup-letup dan sering menjadi bumerang
akibat pergaulan buruk. Remaja menurut
definisi psikologi adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa
dewasa. Sebagian ahli menggolongkan masa remaja itu antara 13-18 tahun dan sebagian ahli yang lain menambahkannya dengan
masa dewasa awal yaitu antara 18-22 tahun.
Masa remaja ditandai dengan datangnya pubertas, yaitu proses kematangan
seksual yang mengubah seorang anak menjadi individu yang matang secara biologis
untuk melakukan reproduksi seksual. Perempuan biasanya mengalami masa pubertas
lebih awal dari pada laki-laki.
Data berbagai sumber menguatkan bahwa
pubertas mempunyai efek psikologis pada remaja yaitu pada citra tubuh, mood, harga diri, hubungan dengan orang tua dan lawan
jenis. Sebagian remaja yang melewati hal ini tanpa kegalauan yang berat
(Atkinson, 2010). Erikson, et.el, mengatakan bahwa setiap tahap perkembangan
manusia selama hidupnya terdapat krisis yang harus dihadapi masing-masing
individu sesuai kelompok usianya. Namun
kerap saat pencarian identitas, para remaja harus berbenturan dengan orang tua
atau aturan yang ditetapkan orang dewasa. Lingkungan dan orang tua/dewasa yang
suportif dapat membantu remaja menemukan jati dirinya secara sehat dan
membantunya keluar dari krisis identitas (Santrock, 2008). Dari segi
pengetahuan, para remaja telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar yang
diperlukan untuk hidup (life skill), atau
sebagai dasar untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Merunut pada pendapat Piaget, remaja
juga berada pada akhir tahap perkembangannya yakni tahap perkembangan kognitif
yang dikenal tahap operasional formal di mana pada tahap ini remaja telah mampu
berpikir abstrak, idealistik dan logis. Setiap manusia tentu mengalami
fase-fase dalam hidupnya, seperti pada masa bayi, fase anak-anak, fase remaja,
fase dewasa, dan fase lanjut usia. Namun, yang sering mengalami pencarian makna
hidup berada pada fase remaja.
Pada
masa remaja, individu mengalami masa penyesuaian diri dengan lingkungan yang
ada disekitarnya, khususnya dengan tatanan norma, nilai, adat, dan etika yang
berlaku di masyarakat. Masa remaja merupakan masa penghubung atau masa
peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja termasuk juga
masa yang indah. Pada masa perkembangan ini, remaja mulai menuntut untuk diberi
kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri, suka mencetuskan perasaannya, jika
dianggap perlu remaja tersebut memberontak karena dia merasa bahwa dirinya
bukan anak-anak lagi, dan mengapa belum diakui kedewasaannya hingga mengakibatkan
kegelisahan di dalam dirinya, kurang tenang dengan keadaan lingkungan. Biasanya
remaja memiliki yang dikaguminya, namun sikapnya tidak selalu negatif.
Beberapa hasil penelitian
menunjukkan titik berat dari peranan sekolah yang mengembangkan interpersonal
remaja dalam mencapai pegetahuan, keterampilan, dan pewarisan budaya.
Berdasarkan penelitian Coleman (1961) menemukan bahwa
sekolah belum menyelesaikan atau membentuk popularitas tertentu. Sebuah contoh,
hanya 31% pelajar putri dicari menjadi kelompok pelajar istimewa tapi 45%
dicari mengingat sebagian jadi atlet, dan umumnya 28% laki-laki sebagai pelajar
istimewa mengingat kekurangan mereka, tapi 72% kekurangannya dipanggil kembali
pada biasanya. Smilarly Snyder(1972) menemukan
bahwa umumnya sekolah lanjutan tingkat pertama paling penting menyeleksi
kriteria antara laki-laki dan perempuan untuk memberikan penghargaan dan status
yang membawa kualitas individu. Johnston and Bachman (1976) dalam
penelitiannya pada sebuah negara
kemungkinan sampel 2100 guru sekolah menemukan bahwa baik guru maupun peserta
didik hampir semuanya berpendapat, dimanakah letak fungsi sebenarnya sekolah
menengah. Laporan Johnston dan Bachman
serta peneliti lainnya ada indikasi yang paling mendasar untuk fungsi-fungsi terakhir.
Frieson (1968) meneliti tentang 15.000 pelajar
pada 19 sekolah di Kanada dan menemukan bahwa pelajar yang kelihatan atletik
dan populer dan yang lebih penting untuk mempersoalkan fungsi kesuksesan. Johnston dan Bachman, et.el, mendukung fungsi pokok dan menjadikan dengan
menitikberatkan sekolah masa depan sebagai harapan remaja yang terakhir.
Hadden (1969) mencatat bahwa 45% siswa yang belajar melihat
sekolah sebagai sebuah harapan atau simbol kehancuran dunia “ sedangkan Rewer mencatat dari 25% apa yang mereka telah
pelajari kebodohan, kegagalan dan kehilangan jati diri. Fungsi-fungsi itu lebih
menambah tekanan individu dan interpersonal. Hanya 2/3 sampel setuju bahwa“sekolah telah merubah seluruh pandangan saya sendiri”.
Sekolah menjalankan beberapa fungsi, paradigma tentang berbagai fungsi
pendidikan telah dipikirkan oleh berbagai ahli perkembangan remaja.
Ausubel Montemayor dan Svajian
(1977) melihat bahwadasar dari pendidikan adalah sebuah alat
untuk mengabadikan dan mewariskan kebudayaan serta mampu memberikan atau
menambah wawasan tentang hidup. Sekolah juga merupakan salah satu cara untuk
memindahkan dan mendapatkan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Mecandless (1970) mengungkapkan bahwa sekolah
seharusnya berfungsi untuk memberikan keterampilan dan mewariskan budaya ilmu
pengetahuan dan nilai.
Tugas Perkembangan dan Kunci Keberhasilan
Penelitian
Harvard University mengungkapkan bahwa keberhasilan seseorang dalam
kehidupannya ditentukan oleh 80% soft
skill dan 20% hard skill. Soft skill berkaitan dengan karakter,
keterampilan mengelola diri dan orang lain. Sedangkan hard skillberkaitan dengan
kompetensinya, yaitu kemampuan dalam merangsang kecerdasan, mengasah
keterampilan, atau menempa keahlian dan profesionalitas.
Rahasia besar yang dimiliki orang-orang besar sesungguhnya
bukan terletak pada seberapa banyak dia belajar tentang suatu ilmu. Rahasia
yang sebenarnya adalah terletak pada karakter
yang kuat, tegar, dan memiliki
tujuan hidup yang berkobar-kobar untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya untuk
sukses dengan aksi nyata, yakni dengan 10 % ide 90% keringat. Setiap orang memiliki kontrol penuh atas
karakternya sendiri termasuk para
remaja. Remaja yang memiliki karakter yang positif dan unggul adalah
tanggung jawab pribadi masing-masing.
Karakter
harus dibangun dan dikembangan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu
proses yang tidak instan. Karakter baik bisa
terwujud hanya dengan praktik dan latihan, tidak bisa hanya diajarkan serta tanpa
praktik, sifat baik masih hanya menjadi nilai. Karakter remaja dibangun dari
kebiasaan-kebiaaan yang diulang, kebiasaan dibangun dari
tindakan-tindakan yang sering dilakukan, tindakan dibangun dari kata-kata yang
sering diucapkan, dan kata-kata keluar dari pikiran (mindset) seseorang.
Remaja
adalah generasi penerus bangsa akan memiliki karakter yang positif dan
kompetensi yang baik apabila diberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan
diri khususnya bakat dan minatnya. Remaja harus mendapatkan perhatian di
dalam penyelenggaraan pendidikan terutama tentang sifat-sifat dan kebutuhan
umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan
kepercayaan serta kebebasan. Beberapa
usaha yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan sehubungan dengan
minat dan kemampuan remaja yakni bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa
untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai
dengan kemampuannya.
Memberikan latihan-latihan praktis
terhadap siswa dengan berorientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungan, penyusunan
kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan local serta keberhasilan
dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh
pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya.
Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal perlu dilakukan yakni bimbingan
tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi
pekerti dan pendidikan keluarga. Bimbingan siswa untuk memahami norma yang
berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat yang
memerlukan kebebasan emosional serta pengertian dari orang tua.
Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk
mengenalkan norma kehidupan sosial kemasyarakatan sangat penting dilakukan. Bisa
dilakukan pendidikan praktis melalui organisasi pemuda, pertemuan dengan orang
tua secara periodik, dan pemantapan pendidikan agama baik di dalam maupun di
luar sekolah. Remaja adalah masa yang penting dalam prestasi (Hendersen &
Dweck;
dalam Santrock,
2005). Tekanan sosial dan akademik mendorong remaja kepada berbagai peran yang
harus dibawakan dimana peran yang sering kali menuntut tanggung jawab yang
lebih besar. Remaja mulai menyadari bahwa pada saat ini mereka dituntut untuk
menghadapi kehidupan sebenarnya.
Keberhasilan
mendapatkan prestasi sangat dipengaruhi oleh faktor motivasi dimana motivasi
merupakan hal terpenting dalam proses belajar. Motivasi bukan hanya sebagai
penggerak tingkah laku, tetapi juga mengarahkan dan memperkuat tingkah laku
dalam belajar. Tinggi rendahnya motivasi dalam belajar terkait dengan motivasi
berprestasi yang dimiliki oleh para remaja. Motivasi berprestasi mempunyai
peran yang sangat penting di dalam keberhasilan kegiatan akademik, sebab
motivasi berprestasi akan mendorong para remaja untuk melakukan semua kegiatan
akademik dengan penuh semangat.
Menurut
McClelland, et al (1953, dalam Chapman, 2000) bahwa tingkat usaha seseorang
untuk sukses dihubungkan dengan keberhasilan yang tinggi untuk berprestasi.
Karena itu motivasi berprestasi harus
menjadi perhatian yang serius dalam rangka mengembangkan peran para remaja
sebagai modal dasar kemajuan bangsa. Fernald dan Fernald (1999) mengatakan
bahwa tumbuh kembangnya motivasi berprestasi salah satunya dipengaruhi oleh
konsep diri.
Moss dan Kagen
(dalam Calhoum & Acocella, 1990) juga mengatakan hal yang sama bahwa
keinginan untuk berhasil dipengaruhi oleh konsep diri yang dimiliki individu.
Harter (1991; dalam Steinberg, 2002) menyebutkan bahwa siswa-siswa yang percaya
akan kemampuan diri sendiri memiliki motivasi berprestasi tinggi yang akan
mempengaruhi penampilan belajar mereka. Konsep diri adalah penilaian kognitif terhadap
diri sendiri (Hattie, 1992).
Didalamnya
terdapat aspek-aspek description, expectation, dan prescription.
Keberhasilan
mendapatkan prestasi akademik sangat dipengaruhi oleh berbagai factor
sebahaimana pendapat Gage & Berliner (1979) dan Sumadi Suryabrata (2004)
konsep diri dan motivasi berprestasi merupakan faktor yang mempengaruhi
prestasi akademik. Moss dan Kagen (dalam Calhoum & Acocella, 1990)
mengatakan bahwa konsep diri yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi
keinginannya untuk berprestasi. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian
Gage dan Berliner (1979), bahwa terdapat hubungan yang positif antara konsep
diri dengan keinginan untuk berprestasi yang dimiliki oleh individu.
Studi yang
dilakukan oleh Harter (1991; dalam Damon, 1998) mengindikasikan bahwa
siswa-siswa yang percaya akan kemampuan diri sendiri memiliki motivasi
berprestasi tinggi yang akan mempengaruhi prestasi akademik mereka. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih
menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan.
Remaja akhir dengan konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya dan
melihat hal-hal positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang
datang.
Snygg,
Combs dan Jersild (dalam Burn, 1993) menyebutkan bahwa konsep diri merupakan variabel
penting yang mempengaruhi tingkah laku siswa. Perbedaan dalam konsep diri
berkaitan dengan perbedaan dalam prestasi akademik. Fink (1962) menemukan hubungan yang signifikan
antara konsep diriyang rendah dengan prestasi akademik rendah, dan hubungan ini
tampak lebih kuat pada siswa laki-laki daripada siswa perempuan. Jones dan
Grieneeks (1970; dalam Burns, 1993) telah meneliti hubungan antara konsep diri
dengan prestasi akademik.
Hasilnya menunjukkan terdapat hubungan positif antara
konsep diri dengan prestasi akademik pada siswa baik laki-laki maupun
perempuan. Di samping itu Jones menemukan bahwa konsep diri merupakan prediktor
yang terbaik bagi prestasi akademik, bahkan berada di atas IQ dan bakat.
Penelitian yang dilakukan Brookover, Thomas dan Peterson (1964; dalam Burns,
1993), mendapatkan hasil bahwa konsep diri secara signifikan dan positif
berkaitan dengan evaluasi yang dilakukan significant other.
Dengan
demikian diperoleh suatu kesimpulan bahwa remaja yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi memiliki ciri-ciri antara lain memiliki gambaran diri positif, optimis dan
percaya diri. Lebih memilih tugas yang tingkat kesukarannya sedang-sedang saja
daripada tugas-tugas yang sangat sukar atau sangat mudah; berorientasi ke masa depan. Sangat menghargai
waktu; tabah, tekun dan gigih dalam mengerjakan tugas serta lebih memilih seorang ahli sebagai mitra
daripada orang yang simpatik.( dihimpun dari berbagai sumber relevan:
penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi)
No comments:
Post a Comment