Literasi Global, Pendidikan Harus Berbenah

Oleh: Drs. Nelson Sihaloho
Rasional
Hari
Pendidikan Nasional yang baru saja dirayakan pada tanggal 2 Mei 2016
mempertegas komitmen kita untuk betapa pentingnya kualitas sumber daya manusia.
Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani
dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi
kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci
kemajuan bangsa.(sumber: pidato Anies Baswedan, 2016). Bila selama ini kita
berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat,
maka kini perlu memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi
finansial dan literasi budaya. Media massa merupakan media yang digunakan
secara massal untuk menyebarluaskan informasi kepada orang banyak. Informasi
itu bisa berupa hiburan, atau pendidikan. Media massa terdiri media cetak dan
media elektronik. Yang termasuk media
cetak adalah koran, majalah, tabloid, newsletter, dan lain-lain. Sedangkan
media elektronik adalah televisi dan film (media audiovisual), juga radio
(media audio). Fungsi Media massa
setidaknya ada empat, yaitu menginformasikan (to inform), mendidik (to educate),
membentuk opini atau pendapat (to persuade), dan menghibur (to entertain).
Media literacy muncul didorong kenyataan bahwa fungsi media massa lebih dominan
dalam hal menghibur, dan mengabaikan fungsi mendidik.
Media
literacy bermaksud membekali khalayak umum dengan kemampuan untuk memilah dan
menilai isi media massa secara kritis, sehingga khalayak umum diharapkan
hanya memanfaatkan isi media sesuai
dengan kepentingannya. Demikian juga dengan pendidikan media literasi
dibutuhkan untuk membangun struktur pengetahuan anak didik. Struktur
pengetahuan ini sangat penting sebab berkaitan erat dengan dasar-dasar ilmu
pengetahuan. Itulah sebabnya jika ilmu-ilmu yang berkembang dapat dideteksi
lebih dini di Pusat Pengembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) apakah ilmu-ilmu yang berkembang
merupakan hasil penemuan murni atau plagiat bisa ditemukan informasinya dan
jawabannya disana.
Media
Literasi
Dari
berbagai sumber banyak yang menyebut literasi sebagai pengetahuan perspektif
untuk membuka diri. Seorang ahli bernama Potter,W.J, 2005 menyatakan bahwa
literasi adalah satu set perspektif yang aktif kita gunakan untuk membuka diri
kepada media untuk menafsirkan makna pesan yang kita hadapi. Kita membangun
perspektif kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan kita, kita perlu alat dan bahan
baku.
Alat-alat
adalah keterampilan kita. bahan baku adalah informasi dari media dan dari dunia
nyata. aktif menggunakan berarti bahwa kita sadar akan pesan dan berinteraksi
dengan mereka secara sadar. Media literacy adalah kemampuan untuk mengakses,
menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan (sumber: National
leadership Confrence on Media literacy, 1992). Pengetahuan tentang bagaimana
fungsi media di masyarakat (Paul Messaris,1990). Istilah literasi digital mulai populer sekitar
tahun 2005 (Davis & Shaw, 2011).
Literasi digital bermakna kemampuan untuk berhubungan
dengan informasi hipertekstual dalam arti bacaan tak berurut berbantuan
komputer. Istilah literasi digital pernah digunakan tahun 1980 an,(Davis &
Shaw, 2011), secara umum bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi
hipertekstual dalam arti membaca non-sekuensial atau nonurutan berbantuan komputer (Bawden, 2001). Gilster (2007)
kemudian memperluas konsep literasi digital sebagai kemampuan memahami dan
menggunakan informasi dari berbagai sumber digital.
Literasi
digital adalah himpunan sikap, pemahaman, dan ketramnpilan menangani dan mengkomunikasikan informasi dan
pengetahuan secara efektif dalam berbagai
media dan format. Meskipun literasi digital merupakan hal penting dalam abad pengetahuan
tempat informasi berwujud bentuk digital, tidak boleh dilupakan bagian penting
lainnya dari literasi digital ialah mengetahui bila menggunakan sumber non digital.
Munculnya prediksi bahwa produksi dan akses informasi
dari rumah, tempat kerja, dan perpustakaan serta dari pusat-pusat informasi
akan terus meningkat seiring perjalanan kita pada abad 21. Deegan dan Tanner
(2002) dalam bukunya "Digital Futures: Strategies for the Information
Age". Mereka memberikan perkiraan bahwa produksi informasi dunia
sekitar 1,5 juta milyar informasi per tahun dimana jumlah tersebut kira-kira
sama dengan 250 MB atau ekuivalen dengan 250 buku yang dihasilkan setiap orang
di planet bumi ini.
Konsep
literasi informasi dan peranan pentingnya dalam pembelajaran formal telah
menjadi kajian utama, terutama di negera-negara maju seperti Inggris, Amerika
Serikat, dan Australia. Concern mereka terhadap hal tersebut
disebabkan adanya ledakan informasi (information explosion) di samping
kemampuan ICTs dalam menyimpan dan menyebarkan informasi. Akibatnya, informasi
yang tersedia begitu banyak, baik sumbernya maupun formatnya. Keadaan ini akan
mempersulit pengguna informasi –bila ia tidak memiliki skill yang cukup
sebagaimana orang yang information
literate miliki.
Literasi informasi menurut Association
of College and Reseach Libraries (ACRL) adalah "a set of abilities to
recognize when information is needed and have the abilitiy to locate, evaluate,
and use needed information effectively". Seseorang yang trampil dalam
literasi informasi tidak hanya akan memiliki kemampuan untuk mengenal kapan ia
membutuhkan informasi, tetapi ia juga memiliki kemampuan untuk menemukan
informasi, dan mengevaluasinya, serta mampu mengeksploitasi informasi
untuk mengambil berbagai keputusan yang tepat sasaran. Individu yang information literate, akan
memiliki rasa percaya diri, kemandirian, penuh inisiatif, dan memiliki motivasi
tinggi dalam melakukan berbagai aktivitas.
Pendidikan
Menghadapi Era Global
Dalam
menjawab tantangan global, pendidikan di Indonesia harus diersiapkan dengan
lebih baik untuk membekali para generasi muda yang kompeten dan mampu bersaing
di tingkat dunia. Pendidikan memiliki tugas besar dalam meningkatkan
kompetensi, kontribusi, produktivitas, serta kapasitas intelektual serta sumber
daya manusia (SDM). Salah satu tantangan
terbesar dalam pemberdayaan bangsa Indonesia adalah meninggalkan tradisi
lisan (orality) untuk memasuki tradisi baca tulis (literacy) (Suroso, 11:2007). Bagaimanapun, era
informasi telah menciptakan ruang yang luas terhadap tumbuh kembangnya media
tulis. Data dari Association For the Educational Achievement
(IAEA), misalnya, mencatat bahwa pada 1992 Finlandia dan Jepang
sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Kita harus belajar
dari sejarah peradaban besar, menggiatkan budaya literasi dapat mendorong
tumbuhnya inovasi baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam pendidikan.
Apabila
budaya literasi dapat digiatkan secara optimal, tidak menutup kemungkinan anak
didik siswa dimasa mendatang akan mampu menjadi opinion
leader pada tingkat global. Globalisasi
kini telah menciptakan ruang aktualisasi yang luas, dunia akan memandang sebuah
bangsa dari karya yang dihasilkannya. Robert A.Day mengatakan:“Scientist are measured primarily not by
their dexterity in laboratory manipulations, not by their innate knowledge of
their board or narrow scientific subjects, and certainly not by their wit or
charm; they are measured, and become known (or remained unknown) by their
publications”
Kemampuan
literasi juga berbanding lurus dengan kemampuan daya nalar. Kemampuan seseorang dalam berbahasa tulis juga dipengaruhi
kemampuan bernalarnya (Suroso, 32:2007). Melalui budaya literasi, transfer ilmu
pengetahuan dari satu negara ke negara yang lain dapat berjalan secara optimal.
Kini bangsa ini dihadapkan pada masalah besar yakni turbulensi literasi. Optimalisasi
budaya literasi adalah sesungguhnya merupakan gerakan yang sepatutnya lebih
digiatkan karena zaman telah berkembang sedemikian cepat. Kementerian
Pendidikan nampaknya belum mampu mengalokasikan anggaran untuk bidang literasi
ini. Bila hanya slogan dan program saja yang digulirkan tanpa langkah nyata
serta konkrit bangsa ini terus akan semakin tertinggal.
Saat ini terjadi
‘banjir informasi’ yang sering disebut dengan kondisi dimana informasi yang
tersedia sangat banyak jumlahnya, baik sumber maupun formatnya. Banjir
informasi terjadi karena setiap orang dimungkinkan menghasilkan informasi
dengan lebih mudah dan dalam berbagai format tanpa harus melibatkan banyak
orang atau institusi lain. Selain itu pemanfaatan teknologi dalam berbagai
aspek kehidupan pada era global ini juga sangat identik dengan adanya kompetisi
maupun kerjasama (competition and cooperation).
Kompetisi ketat seperti yang terjadi sekarang
ini, mengharuskan kita bekerja lebih keras untuk mempersiapkan SDM yang mampu
bersaing secara global. Peran Literasi Informasi dalam bidang informasi global
mencakup yang dihadapi oleh pendidikan adalah bidang sains, teknik rekayasa,
ekonomi dan bisnis, administrasi umum, pemerintahan, kesehatan, industry manufaktur,
transportasi serta bidang pertahanan dan keamanan. Konsep literasi informasi
dan peranan pentingnya dalam pembelajaran formal telah menjadi kajian utama,
terutama di negera-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan
Australia.Concern mereka terhadap hal tersebut disebabkan adanya ledakan informasi
(information explosion) di samping kemampuan dalam menyimpan dan menyebarkan
informasi.
Mengutip
pendapat Brophy, Fisher, dan Craven (1998), lifelong learning diartikan
sebagai: “a deliberate progression throughout the life of an individual, where
the initial acquisition of knowledge and skills is reviewed and upgraded
continuously, to meet challenges set by an ever-changing society” Konsep
pembelajaran sepanjang hayat yang disampaikan oleh Brophy, Fisher, dan Craven
itu mengindikasikan adanya proses yang berlangsung dinamis dan terus menerus,
kemudian melahirkan pembaharuan di dalam diri lifelong learner dan relevan dan
sesuai dengan kebutuhan zaman.
Dari uraian
diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pendidikan kita sejak saat ini
hingga dimasa mendatang akan menghadapi literasi global. Untuk itu pendidikan
harus berbenah dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang tersedia sebagai
bekal anak didik dalam menghadapi persaingan global. Iklim pendidikan yang
lebih kondusif dengan konsep transformasional dipercaya akan mampu menghadapi
era global yang sarat dengan persaingan kompetitif. (dihimpun dari berbagai sumber relevan:
penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi)
No comments:
Post a Comment