Monday, May 16, 2016

Literasi Global

Literasi Global, Pendidikan Harus Berbenah

Description: C:\Users\seven\Pictures\NELSON 113.jpg
Oleh: Drs. Nelson Sihaloho

Rasional
Hari Pendidikan Nasional yang baru saja dirayakan pada tanggal 2 Mei 2016 mempertegas komitmen kita untuk betapa pentingnya kualitas sumber daya manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa.(sumber: pidato Anies Baswedan, 2016). Bila selama ini kita berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat, maka kini perlu memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial dan literasi budaya. Media massa merupakan media yang digunakan secara massal untuk menyebarluaskan informasi kepada orang banyak. Informasi itu bisa berupa hiburan, atau pendidikan. Media massa terdiri media cetak dan media elektronik. Yang termasuk  media cetak adalah koran, majalah, tabloid, newsletter, dan lain-lain. Sedangkan media elektronik adalah televisi dan film (media audiovisual), juga radio (media audio).  Fungsi Media massa setidaknya ada empat, yaitu menginformasikan (to inform), mendidik (to educate), membentuk opini atau pendapat (to persuade), dan menghibur (to entertain). Media literacy muncul didorong kenyataan bahwa fungsi media massa lebih dominan dalam hal menghibur, dan mengabaikan fungsi mendidik.
Media literacy bermaksud membekali khalayak umum dengan kemampuan untuk memilah dan menilai isi media massa secara kritis, sehingga khalayak umum diharapkan hanya  memanfaatkan isi media sesuai dengan kepentingannya. Demikian juga dengan pendidikan media literasi dibutuhkan untuk membangun struktur pengetahuan anak didik. Struktur pengetahuan ini sangat penting sebab berkaitan erat dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya jika ilmu-ilmu yang berkembang dapat dideteksi lebih  dini di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) apakah ilmu-ilmu yang berkembang merupakan hasil penemuan murni atau plagiat bisa ditemukan informasinya dan jawabannya disana.
Media Literasi
Dari berbagai sumber banyak yang menyebut literasi sebagai pengetahuan perspektif untuk membuka diri. Seorang ahli bernama Potter,W.J, 2005 menyatakan bahwa literasi adalah satu set perspektif yang aktif kita gunakan untuk membuka diri kepada media untuk menafsirkan makna pesan yang kita hadapi. Kita membangun perspektif kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur  pengetahuan kita, kita perlu alat dan bahan baku.
Alat-alat adalah keterampilan kita. bahan baku adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. aktif menggunakan berarti bahwa kita sadar akan pesan dan berinteraksi dengan mereka secara sadar. Media literacy adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan (sumber: National leadership Confrence on Media literacy, 1992). Pengetahuan tentang bagaimana fungsi media di masyarakat (Paul Messaris,1990).  Istilah literasi digital mulai populer sekitar tahun 2005 (Davis & Shaw, 2011).
Literasi  digital bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti bacaan tak berurut berbantuan komputer. Istilah literasi digital pernah digunakan tahun 1980 an,(Davis & Shaw, 2011), secara umum bermakna kemampuan untuk berhubungan dengan informasi hipertekstual dalam arti membaca non-sekuensial atau nonurutan berbantuan  komputer (Bawden, 2001). Gilster (2007) kemudian memperluas konsep literasi digital sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital.
Literasi digital adalah himpunan sikap, pemahaman, dan ketramnpilan  menangani dan mengkomunikasikan informasi dan pengetahuan secara efektif dalam  berbagai media dan format. Meskipun literasi digital merupakan hal penting dalam abad pengetahuan tempat informasi berwujud bentuk digital, tidak boleh dilupakan bagian penting lainnya dari literasi digital ialah mengetahui bila menggunakan sumber non digital.  Munculnya  prediksi bahwa produksi dan akses informasi dari rumah, tempat kerja, dan perpustakaan serta dari pusat-pusat informasi akan terus meningkat seiring perjalanan kita pada abad 21. Deegan dan Tanner (2002) dalam bukunya "Digital Futures: Strategies for the Information Age". Mereka memberikan perkiraan bahwa produksi informasi dunia sekitar 1,5 juta milyar informasi per tahun dimana jumlah tersebut kira-kira sama dengan 250 MB atau ekuivalen dengan 250 buku yang dihasilkan setiap orang di planet bumi ini.
Konsep literasi informasi dan peranan pentingnya dalam pembelajaran formal telah menjadi kajian utama, terutama di negera-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Concern mereka terhadap hal tersebut disebabkan adanya ledakan informasi (information explosion) di samping kemampuan ICTs dalam menyimpan dan menyebarkan informasi. Akibatnya, informasi yang tersedia begitu banyak, baik sumbernya maupun formatnya. Keadaan ini akan mempersulit pengguna informasi –bila ia tidak memiliki skill yang cukup sebagaimana orang yang information literate miliki.
Literasi informasi menurut Association of College and Reseach Libraries (ACRL) adalah "a set of abilities to recognize when information is needed and have the abilitiy to locate, evaluate, and use needed information effectively". Seseorang yang trampil dalam literasi informasi tidak hanya akan memiliki kemampuan untuk mengenal kapan ia membutuhkan informasi, tetapi ia juga memiliki kemampuan untuk menemukan informasi, dan mengevaluasinya, serta  mampu mengeksploitasi informasi untuk mengambil berbagai keputusan yang tepat sasaran. Individu yang information literate, akan memiliki rasa percaya diri, kemandirian, penuh inisiatif, dan memiliki motivasi tinggi dalam melakukan berbagai aktivitas.
Pendidikan Menghadapi Era Global
Dalam menjawab tantangan global, pendidikan di Indonesia harus diersiapkan dengan lebih baik untuk membekali para generasi muda yang kompeten dan mampu bersaing di tingkat dunia. Pendidikan memiliki tugas besar dalam meningkatkan  kompetensi, kontribusi, produktivitas, serta kapasitas intelektual serta sumber daya manusia (SDM).  Salah satu tantangan terbesar dalam pemberdayaan bangsa Indonesia adalah meninggalkan tradisi lisan (orality) untuk memasuki tradisi baca tulis (literacy) (Suroso, 11:2007). Bagaimanapun, era informasi telah menciptakan ruang yang luas terhadap tumbuh kembangnya media tulis. Data dari Association For the Educational Achievement (IAEA), misalnya, mencatat bahwa pada 1992 Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Kita harus belajar dari sejarah peradaban besar, menggiatkan budaya literasi dapat mendorong tumbuhnya inovasi baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan  khususnya dalam pendidikan.
Apabila budaya literasi dapat digiatkan secara optimal, tidak menutup kemungkinan anak didik siswa dimasa mendatang akan mampu menjadi opinion leader pada tingkat global.  Globalisasi kini telah menciptakan ruang aktualisasi yang luas, dunia akan memandang sebuah bangsa dari karya yang dihasilkannya. Robert A.Day mengatakan:“Scientist are measured primarily not by their dexterity in laboratory manipulations, not by their innate knowledge of their board or narrow scientific subjects, and certainly not by their wit or charm; they are measured, and become known (or remained unknown) by their publications”
Kemampuan literasi juga berbanding lurus dengan kemampuan daya nalar. Kemampuan seseorang dalam berbahasa tulis juga dipengaruhi kemampuan bernalarnya (Suroso, 32:2007). Melalui budaya literasi, transfer ilmu pengetahuan dari satu negara ke negara yang lain dapat berjalan secara optimal. Kini bangsa ini dihadapkan pada masalah besar yakni turbulensi literasi. Optimalisasi budaya literasi adalah sesungguhnya merupakan gerakan yang sepatutnya lebih digiatkan karena zaman telah berkembang sedemikian cepat. Kementerian Pendidikan nampaknya belum mampu mengalokasikan anggaran untuk bidang literasi ini. Bila hanya slogan dan program saja yang digulirkan tanpa langkah nyata serta konkrit bangsa ini terus akan semakin tertinggal.
Saat ini terjadi ‘banjir informasi’ yang sering disebut dengan kondisi dimana informasi yang tersedia sangat banyak jumlahnya, baik sumber maupun formatnya. Banjir informasi terjadi karena setiap orang dimungkinkan menghasilkan informasi dengan lebih mudah dan dalam berbagai format tanpa harus melibatkan banyak orang atau institusi lain. Selain itu pemanfaatan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan pada era global ini juga sangat identik dengan adanya kompetisi maupun kerjasama (competition and cooperation).
 Kompetisi ketat seperti yang terjadi sekarang ini, mengharuskan kita bekerja lebih keras untuk mempersiapkan SDM yang mampu bersaing secara global. Peran Literasi Informasi dalam bidang informasi global mencakup yang dihadapi oleh pendidikan adalah bidang sains, teknik rekayasa, ekonomi dan bisnis, administrasi umum, pemerintahan, kesehatan, industry manufaktur, transportasi serta bidang pertahanan dan keamanan. Konsep literasi informasi dan peranan pentingnya dalam pembelajaran formal telah menjadi kajian utama, terutama di negera-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.Concern mereka terhadap hal tersebut disebabkan adanya ledakan informasi (information explosion) di samping kemampuan dalam menyimpan dan menyebarkan informasi.
Mengutip pendapat Brophy, Fisher, dan Craven (1998), lifelong learning diartikan sebagai: “a deliberate progression throughout the life of an individual, where the initial acquisition of knowledge and skills is reviewed and upgraded continuously, to meet challenges set by an ever-changing society” Konsep pembelajaran sepanjang hayat yang disampaikan oleh Brophy, Fisher, dan Craven itu mengindikasikan adanya proses yang berlangsung dinamis dan terus menerus, kemudian melahirkan pembaharuan di dalam diri lifelong learner dan relevan dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Dari uraian diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pendidikan kita sejak saat ini hingga dimasa mendatang akan menghadapi literasi global. Untuk itu pendidikan harus berbenah dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang tersedia sebagai bekal anak didik dalam menghadapi persaingan global. Iklim pendidikan yang lebih kondusif dengan konsep transformasional dipercaya akan mampu menghadapi era global yang sarat dengan persaingan kompetitif.  (dihimpun dari berbagai sumber relevan: penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi)


No comments:

Post a Comment