Menanti Tanggungjawab Perancang Kurikulum
2013
Oleh: Nelson
Sihaloho
Abstrak:
Kurikulum
2013 disusun oleh Tim pada akhir 2012 dan diterapkan pada awal tahun ajaran
2013/2014. Kini telah memasuki 3 tahun ajaran dan siap melaksanakan Ujian
Nasional (UN) Kurikulum 2013 sebagaimana dilansir berbagai media. Namun fakta
dilapangan guru semakin gerah dan resah dengan implementasi K 13 tersebut.
Berhembus informasi dari Kemdikbud Dikdasmen,bahwa K 13 akan dilakukan
perbaikan terutama penyederhanaan tentang penilaian.
Berkaitan
dengan penerapan K 13 tersebut perlu pertanggungjawaban yang konkrit dari
pihak-pihak yang ditugasi merancang K 13 mulai dari penulisan naskah buku K 13,
Penilaian hingga pengisian rapor terhadap publik. Dokumen-dokumen panjang yang
harus diisi oleh guru khususnya wali kelas dalam mengisi rapor mengindikasikan
bahwa sistem penilaian dan penerapan K 13 memang harus direvisi.
Tim
Perancang K 13 mulai dari pembuat naskah buku SD hingga SMA/K wajib
mempertanggungjawabkan rancangan K 13 itu kepada publik agar tidak semena-mena
dan sewenang-wenang dalam menerapkan kurikulum. Setiap implementasi yang
berkaitan dengan kebijakan pendidikan termasuk kurikulum, guru selalu bahkan
dijadikan “kambing hitam” tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkannya
kelak.
Kata kunci:
Kurikulum
Menjelang 71 tahun Indonesia merdeka pemerintah
telah banyak mencoba berbagai macam kurikulum. Kendati demikian penerapannya tidak
dibarengi dengan evaluasi terhadap tingkat keberhasilannya. Fakta menunjukkan bahwa pelatihan-pelatihan yang
dilakukan terhadap guru mulai dari perekrutan instruktur nasional, guru
pendamping hingga guru sasaran.
Munculnya
berbagai kritik dan polemic seputar K 13 mengindikasikan adanya berbagai
masalah bahkan semakin membebani guru sebagai pelaksana utama dilapangan. Diantara beberapa masalah yang mengemuka diantaranya
pengurangan dan peleburan mata pelajaran serta penambahan jam pelajaran. Dengan
kondisi itu bahwa struktur kurikulum memang belum memadai untuk
diimplementasikan.
Melihat dari fakta sejarah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir saja sudah ada
tiga kurikulum yang dilaksanakan yakni kurikulum berbasis kompetensi (KBK), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan pemberlakuan kurikulum 2013. Kendati
demikian, dalam perjalanan pergantian kurikulum, sistem pendidikan di Indonesia
tak mengalami perbaikan yang signifikan. Kurikulum diganti tetap saja ada UN,
sistem pembelajaran disekolah masih setengah hati dilaksanakan padahal gencar
dibicarakan teknologi pembelajaran berbasis Iptek.
Anehnya untuk komputer dan infocus saja dalam ruang kelas
belajar masih minim apalagi hand book yang dijanjikan hingga saat ini belum
terealisasi sepenuhnya. Selama ini tim “kesayangan dan anak emas” pilihan Kemendikbud
hanya sibuk mengutak-aktik mata pelajaran dan beban belajar peserta didik
didalam kurikulum 2013. Kualitas guru seakan tak menjadi perhatian yang serius,
padahal kualitas guru menjadi permasalahan penting yang harus diatasi dalam
pendidikan kita. Perbincangan dan perdebatan pro-kontra pun muncul sangat menarik
di semua media nasional maupun media sosial.
Karena itu K13 harus dievaluasi,
diperbaiki kontennya, dan diperpanjang waktu persiapannya sehingga implementasi
benar-benar sudah siap. Posisi guru dan siswa yang belum siap pada akhirnya sering
menyalahkan kurikulum sebagai biang kerok kacaunya dunia pendidikan. Hingga kini,
hand book belum semuanya terdistribusi. Kurikulum yang telah dirancang sedemikian rupa
tersebut, justru membingungkan guru dan pelaku pendidikan di berbagai tempat.
Bahkan ada yang menilai kurikulum 2013
bertentangan dengan kurikulum 2006, karena ada penghapusan beberapa mata
pelajaran. Selama ini mata pelajaran yang di UN kan selalu menjadi mata
pelajaran “istimewa” dan mata pelajaran yang di “anak emas” kan dimana jadwal
khususpun disediakan secara nasional. Sedangkan untuk mata pelajaran lain
dianggap tidak penting sehingga diskriminasi terhadap mata pelajaran selalu saja
terjadi. Sudah saatnya “hal istimewa” mata pelajaran UN itu dicabut dan
dihapus. Apabila memang berkeinginan menghapus diksriminasi mata pelajaran di
sekolah maka penghapusan UN jauh lebih
baik Jika ingin semua mata pelajaran sejajar semua mata pelajaran wajib di UN
kan sehingga semua mata pelajaran adalah sangat penting.
Belajar Dari Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia
Banyak
kalangan menyatakan bahwa pemeringkatan system pendidikan terbaik diukur
berdasarkan berbagai faktor, termasuk nilai test tingkat internasional, tingkat
kelulusan antara tahun 2006 hingga 2010, dan prevalensi pencari pendidikan
tinggi. Meski pun pendanaan merupakan faktor penting dalam sistem pendidikan
yang kuat, budaya yang mendukung pembelajaran ternyata jauh lebih penting sebagaimana
dibuktikan oleh negara-negara Asia yang termasuk dalam peringkat dimana
pendidikan sangat dihargai dan orang tua memiliki harapan besar terhadap
pendidikan anak-anaknya.
Pentingnya
guru berkualitas tinggi dan meningkatkan kualitas perekrutan tenaga pendidik
adalah faktor yang tidak kalah penting. Pemeringkatan ini menunjukkan,
bagaimanapun, bahwa tidak ada korelasi yang jelas antara gaji yang lebih tinggi
dan kinerja yang lebih baik. Barangkali banyak ahli-ahli pendidikan yang telah
melakukan studi banding ke berbagai negara yang system pendidikannya merupakan
yang terbaik di dunia. Diantara Negara-negara itu adalah Kanada. Swiss,
Selandia Baru, Belanda, Britania Raya, Singapura, Jepang, Hongkong, Korea
Selatan dan Finlandia. Pemerintah Kanada menerapkan standar tinggi secara
seragam di setiap provinsi. Sekolah menengah dimulai dari Kelas 11 atau 12,
tergantung pada provinsi. Setelah itu, siswa dapat melanjutkan pendidikan ke
tingkat universitas, perguruan tinggi atau studi Cegep akronim dalam bahasa Perancis
yang berarti Institut Pendidikan Kejuruan, dan dua tahun pendidikan umum atau
tiga tahun pendidikan teknis antara sekolah menengah dan universitas.
Sedangkan
negara Swiss memiliki sistem pendidikan desentralisasi. Swiss tidak memiliki
menteri federal pendidikan. Setiap kanton memiliki kepala pendidikan, yang
semuanya bersama-sama membentuk Konferensi Cantonal Swiss Menteri Pendidikan
(EDK dalam bahasa Jerman). EDK memainkan peran penting dalam membahas dan
mengkoordinasikan kebijakan pendidikan, dan dalam menekankan nilai-nilai
tertentu dalam pendidikan.
Sistem
pendidikan di Selandia Baru memiliki tiga tingkatan, pendidikan anak usia dini,
sekolah menengah, dan pendidikan tinggi dimana siswa dapat mengikuti berbagai
jalur yang fleksibel.
Sistem
dirancang untuk mengenali kemampuan yang berbeda, keyakinan agama, kelompok
etnis, tingkat pendapatan, ide-ide tentang pengajaran dan pembelajaran, dan
memungkinkan penyedia pendidikan untuk mengembangkan karakter khusus mereka
sendiri.
Selandia
Baru memiliki sistem jaminan kualitas yang kuat yang memastikan konsistensi,
pendidikan berkualitas tinggi di semua tingkat sistem pendidikan, baik negeri
maupun swasta.
Pendidikan
di Belanda terdiri dari tingkat pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Standar
kualitas Sistem pendidikan Belanda diterapkan oleh hukum yang dikeluarkan pada
tahun 1815. Menurut hukum itu, setiap program studi di negara ini harus
diakreditasi oleh Pemerintah atau organisasi yang sesuai. Di Belanda, siswa
dapat mengikuti program berdasarkan kurikulum dari negara-negara lain (Inggris
atau AS) atau kurikulum internasional yang dikembangkan khusus: International
Baccalaureate (IB).
Sedangkan
pendidikan di Britania Raya didelegasikan kepada masing-masing negara di
Britania Raya yang memiliki sistem yang terpisah di bawah pemerintahan
terpisah: Pemerintah Inggris bertanggung jawab untuk Inggris; Pemerintah
Skotlandia, Pemerintah Wales dan Eksekutif Irlandia Utara bertanggung jawab
untuk Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara. Kurikulum Nasional (NC), dibentuk
pada tahun 1988, menyediakan kerangka kerja untuk pendidikan di Inggris dan
Wales antara usia 5 dan 18 tahun.
Di
Negara Singapura, Departemen Pendidikan
bertujuan untuk membantu siswa untuk menemukan bakat mereka sendiri, untuk
menggali bakat terbaik mereka dan menyadari potensi penuh mereka, dan untuk
mengembangkan semangat untuk belajar yang berlangsung sepanjang hidup. Singapura
memiliki sistem pendidikan yang kuat, memiliki sekolah yang baik, dengan
pemimpin sekolah dan guru yang berkualitas, dan fasilitas yang terbaik di
dunia. Singapura sedang membangun kekuatan ini untuk mempersiapkan generasi
berikutnya untuk masa depan. Singapura juga memberikan siswa pendidikan yang
lebih berbasis luas untuk memastikan mereka semua adalah siswa yang berkualitas.
Tradisi mereka adalah memelihara anak-anak muda Singapura yang mengajukan
pertanyaan dan mencari jawaban, dan yang bersedia untuk berpikir dengan cara
baru, memecahkan masalah baru dan menciptakan peluang baru untuk masa depan. Sistem
pendidikan Jepang direformasi setelah Perang Dunia II dari Sistem Lama 6-5-3-3
berubah menjadi sistem 6-3-3-4 (6 tahun sekolah dasar, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA
dan 4 tahun Universitas) dengan mengacu ke sistem Amerika. Gimukyoiku (wajib
belajar) 9 tahun, 6 di shougakkou (SD) dan 3 di chuugakkou (SMP). Jepang
memiliki salah satu populasi di dunia yang paling berpendidikan, dengan 100%
pendaftaran di kelas wajib dan buta huruf. Departemen Pendidikan mengawasi
kurikulum, buku teks, kelas dan mempertahankan tingkat pendidikan yang seragam
di seluruh negeri.
Lebih
dari 20% anggaran belanja pemerintah Hong Kong adalah untuk sektor pendidikan.
Hong Kong telah mengembangkan sistem pendidikan yang sangat baik melayani
mahasiswa lokal dan expatriat, juga sekelompok universitas kelas dunia. Struktur
sistem pendidikan di Hong Kong didasarkan dari sistem Britania Raya. Kurikulum sekolah umum Hong Kong diajarkan
dalam bahasa Kanton, sebagian besar siswa internasional dan expat di Hong Kong
mengikuti sekolah swasta dan internasional berdasarkan kurikulum dari negara
asal mereka. Hong Kong saat ini sedang
dalam proses reformasi pendidikan utama, yang dirancang untuk mengurangi jumlah
ujian dalam kurikulum dan untuk menempatkan lebih banyak perhatian pada
pengembangan pribadi.
Di
negara Korea Selatan, sekolah untuk semua anak berusia antara enam dan lima
belas adalah gratis. SMA, untuk siswa usia 15-18, dikenakan biaya biaya kuliah
untuk menambah dana dari pemerintah. Pembiayaan sekolah sangat terpusat, dengan
sistem sekolah lokal yang berasal 80% dari pendapatan mereka dari anggaran
belanja Kementerian Pendidikan Nasional, Sains dan Teknologi (MEST). Korea Selatan menghabiskan $ 7.434 per siswa
di semua tingkat pendidikan, dibandingkan dengan rata-rata OECD dari $ 8.831. Sekolah
dievaluasi setiap tahun oleh kelompok pemantau eksternal yang ditetapkan oleh
dinas pendidikan provinsi. Finlandia menjadi negara dengan sistem pendidikan
terbaik di dunia. Finlandia menerapkan reformasi pendidikan secara
besar-besaran 40 tahun yang lalu, sistem sekolah di negara itu secara konsisten
di atas rata-rata sistem pendidikan internasional.
Tanggungjawab
Perancang K 13 Ditunggu Publik
Kurikulum 2013 sudah berjalan 3 tahun pelajaran dan UN
pertama terhadap sekolah SD.SMP,SMA/K adalah tahun 2016. Dari berbagai
informasi dan fakta-fakta yang dilansir media massa, televise, elektronik
maupun media online banyak keluhan guru tentang Kn 13. Berpijak pada kondisi
itu perlu diminta pertanggungjawaban para perancang K 13 tersebut sebelum
direvisi dan dilaksanakan kembali dengan Kurikulum Nasional. Beberapa hal yang perlu diminta
pertangungjawaban adalah rancangan kurikulum, kompetensi dasar, standar
kompetensi lulusan, silabus mata pelajaran, materi pelajaran serta evaluasi
maupun sisem penilaian termasuk pengisian rapor ( Tim Perancang Kurikulum
2013-red). Penulis naskah-naskah materi yang ditunjuk sebagaimana tertera
nama-namanya dalam contributor naskah mulai dari penulis naskah jenjang SD
hingga SMA/K wajib diminta pertangungjawabannya. Bidang study/mata pelajaran dimana
jamnya agak gemuk perlu dirampingkan (dikurangi) Mengutip pendapat Piaget untuk merancang
kurikulum penting diperhatikan tahapan perkembangan anak didik. Tahapan
sebanyak 5 tahapan perkembangan yakni tahap sensorik-motorik (usia 0-2 tahun),
tahap prekonsep (usia 2-4 tahun), tahap intuisi (usia 4-7 tahun), tahap
operasional konkrit (usia 7-11 tahun) dan tahap operasinal formal (usia 11-15
tahun). Sehingga menurut Piaget proses berpikir siswa seharusnya dari kongkrit
ke abstrak. Apabila memang para perancang kurikulum itu mengadopsi kurikulum
SMP di USA (California) meski terdapat nilai yang diperdebatkan di bidang
pendidikan yakni persamaan, efisiensi, otonomi,dan berkualitas tinggi dimana kebijakan
pendidikan USA ditentukan oleh masyarakat lokal dan negara bagian (states).
Pada kurikulum USA lebih banyak porsi teknologi dibandingkan porsi
pedagogiknya. Hal ini disebabkan adanya unsur politik sebagai negara maju
berpengaruh didalamnya. Contohnya pada buku biologi Matthew materi tumbuhan
dan ekologi itu direduksi pada grade 7-9 (SMP), yang nantinya akan di perdalam pada
tingkat lebih lanjut (grade 10-12). Karena itu tanggungjawab perancang
kurikulum 2013 wajib dipertanggungjawabkan kepada public sebab selama ini
banyak hal-hal yang menimbulkan pro kontra dimasyarakat. Perubahan kurikulum di
Indonesia selalu menyedot angaran yang tidak sedikit mulai dari persiapan,
perencanaan, persetujuan hingga pelaksanaan. Selain itu banyaknya pihak yang
terlibat didalamnya mulai dari pelatihan instruktur nasional, guru pendamping
hingga guru sasaran dana yang dianggarkan juga tidak sedikit. Pengadaan buku
paket K 13 mulai dari SD hingga jenjang SMA/K juga bersumber dari anggaran
APBN. Mengacu pada hal tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan
Dasar dan Menengah wajib mengembalikan semua perencanaan, pelaksanaan kurikulum
kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) dimana selama implementasi
kurikulum diduga pihak Puskurbuk kurang optimal dilibatkan dalam
penyusunanannya. Semua pihak pasti berharap agar kurikulum pendidikan di
Indonesia dirancang dengan baik sebab persaingan dalam menghadapi eraglobal
membutuhkan system pendidikan yang baik dengan kurikulum yang luwes, praktis
namun mampu menjangkau peta konsep berpikir anak didik jauh ke depan. (*
Tulisan ini dihimpun dari berbagai sumber, penulis adalh guru SMPN 11 Kota
Jambi).
No comments:
Post a Comment